-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Kemotrapi Parasit

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Kemotrapi Parasit   15th March 2013, 2:51 pm

PBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sejak dulu setiap orang yang sakit akan berusaha mencari obatnya, maupun cara
pengobatannya. Dalam pengobatan suatu penyakit tidak selalu menggunakan obat,
misalnya pijat, dikerok dengan menggunakan mata uang logam, dioperaasi,
dipotong,dan sebagainya. Tetapi sebagian besar menggunakan obat.
Definisi obat ialah suatu zat yang digunakan untuk diagnosa, pengobatan,
melunakkan, penyembuhan atau pencegahan penyakit pada manusia atau hewan.
Obat-obat modern yang begitu efektif dalam penyembuhan dan dapat disamakan
dengan pisau bedah yang apabila digunakan oleh ahli bedah akan dapat menghi
langkan bagian tubuh yang sakit tapi bila bukan ahli yang menggunakan akan
membunuh pasien. Begitu pula obat bila digunakan tidak menurut aturan yang
telah ditentukan oleh ahlinya (apoteker/dokter) justru akan dapat membunuhnya.
Oleh karena itu dalam menggunakan obat perlu diketahui efek obat tersebut,
penyakit apa yang diderita, berapa dosisnya serta kapan dan dimana obat itu
digunakan. Batas jarak sebagai obat dan racun adalah pendek, hal ini tergantung
dari cara dan dosis. Yang mengherankan bahwa aksi dan efek setiap obat pada
badan adalah berbeda.
Kesimpulannya bila seseorang itu sakit datanglah ke dokter, biar diperiksa
penyakit apa yang diderita. Dan dokter akan memberi resep, yaitu permintaan
tertulis pada apoteker agar disediakan dan diberikan obat pada penderita serta
wadah obatnya ditulis aturan penggunaannya. Oleh karena itu pasien harus
membawa resep ke apotek, agar apoteker menyediakan serta turut mengontrol dosis
obatnya.




BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGGOLONGAN OBAT YANG TERMASUK ELEKTROLIT
1. Diuretik
a. Definisi
Diuretik adalah obat yang menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah dieresis
mempunyai dua pengertian, pertama menunjukan adanya penambahan volume urin yang
di produksi dan yang kedua menunjukan jumlah pengeluaran zat – zat terlarut dan
air. Fungsi utama diuretik adalah memobilisasi cairan udem, yang berarti
mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel
kembali menjadi normal.
b. Macam-macam diuretik
Secara umum diuretic dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1) Diuretik osmotik.
Istilah diuretic osmotic biasanya dipakai untuk bukan zat elektrolit yang mudah
dan cepat diekskresi oleh ginjal. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic
osmotic apabila memenuhi empat syarat :
v Diinfiltrasi secara bebas oleh glomerulus
v Hanya sedikit yang direabsorbsi sel tubuli ginjal
v Secara farmakologis merupakan zat yang inert
v Umumnya resisten terhadap perubahan – perubahan metabolic
Dengan sifat – sifat ini, maka diuretic osmotic dapat diberikan dalam jumlah
yang cukup besar sehingga turut menentukan derajat osmolaritas plasma, filtrate
glomerulus dan cairan tubuli. Contoh golongan obat ini adalah manitol, urea
gliserin, dan isosorbid.

a) Sediaan dan Posologi
Manitol Untuk suntikan intravena digunakan larutan 5 – 25 % dengan volume
antara 50-1000 ml. Dosis untuk menimbulkan dieresis ialah 50-200 gram yang
diberikan dalam cairan infuse selama 24 jam dengan kecepatan infuse sedemikian,
sehingga diperoleh dieresis sebanyak 30-50 ml per jam. Untuk penderita
dengan oligurea hebat diberikan dosis percobaan yaitu 200mg/ kgBB yang
diberikan melalui infuse selama 3-5 menit. Bila dengan 1-2 kali dosis percobaan
diuresis masih kurang dari 30ml per jam dalam 2-3 jam, maka pasien harus
dievaluasi kembali sebelum pengobatan dilanjutkan. Untuk mencegah gagal ginjal
akut pada tindakan operasi atau untuk mengatasi oliguria, dosis total manitol
untuk orang dewasa ialah 50-100gram.
Untuk menurunkan tekanan intracranial yang meninggi, menurunkan tekanan
intraokuler pada serangan akut glaukoma kongestif atau sebelum operasi mata,
digunakan manitol 1,5-2gram/kgBB sebelum larutan 15-20%, yang diberikan melalui
infuse selama 30-60 menit.
Manitol dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan anurea, atau udem paru
yang berat, dehidrasi berat dan pendarahan intrakranial kecuali bila akan
dilakukan kraniotomi. Infus manitol harus segera dihentikan bila terdapat
tanda-tanda gangguan fungsi ginjal yang progresif, payah jantung atau kongesti
paru.
b) Contoh golongan diuretik osmotik
1. Urea
Suatu Kristal putih dengan rasa agak pahit dan mudah larut dalam air. Sediaan
intravena mengandung urea sampai 30% dalam dekstrose 50% (iso-osmotik) sebab
larutan urea murni dapat menimbulkan hemolisis. Pada tindakan bedah syaraf,
urea diberikan intravena dengan dosis1-1,5 gram/kg BB. Sebagai diuretik, urea
potensinya lebih lemah dibandingkan dengan manitol, karena hampir 50% senyawa
urea ini akan direabsorpsi oleh tubuli ginjal.
2. Isosorbid
Diberikan segera oral untuk indikasi yang sama dengan gliserin. Efeknya juga
sama, hanya menimbulkan dieresis yang lebih besar dari pada gliserin, tanpa
menimbulkan hiperglikemia. Dosis berkisar antara 1-3 g/kgBB, dan dapat
diberikan 2-4 kali sehari
1. Gliserin
Diberikan per oral sebelum suatu tindakan eptalmologi dengan tujuan menurunkan
tekanan intraokuler. Efek maksimal terlihat satu jam sesudah pemberian obat dan
menghilang sesudah 5 Jm. Dosis untuk orang dewasa yaitu 1-1,5gram/kgBB dalam
larutan 50/75%. Gliserin ini cepat dimetabolisme, sehingga efek diuresisnya
relatif kecil.
Penghambat Karbonik Anhidrase
Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalisis reaksi CO2 + H2OàH2CO3.
Enzim ini terdapat antara lain pada korteks renalisis, pancreas, mukosa
lambung, mata, aktivitasnya oleh sianida, azida, dan sulfida. Derivat
sulfonamid yang juga dapat manghambat kerja enzim ini adalah asetazolamid dan
diklorofenamid.
1. Penghambat kerja enzim karbonik anhidrase diantaranya

a. Asetazolamid dan diklorofenamid
Efek farmakodinamik yang utama dari asetazolamid adalah penghambatan karbonik
anhidrase secara nonkompetitif. Akibatnya terjadi perubahan sistemik dan
perubahan terbatas pada organ tempat enzim tersebut berada.
Untuk menimbulkan penghambatan efek fisiologis yang nyata, lebih dari 99%
aktivitas enzim tersebut harus dihambat. Sekresi H+ oleh sel tubuli berkurang
karena pembentukan H+ dan HCO3 yang berkurang dalam sel tubuli, sehingga
pertukaran Na+ oleh H+ terhambat. Hal ini mengakibatkan meningkatnya ekskresi
bikarbonat, natrium dan kalium melalui urin sehingga urin menjadi alkalis.
Dengan bertambahnya ekskresi bikarbonat dan ion tetap (fix ion) dalam urin,
terutama Na + , maka kadar ion-ion ini dalam cairan ekstrasel menurun, sehingga
terjadi asidosis metabolik. Bila pada penderita dengan edema diberikan
asetazolamid jangka lama, maka dapat terjadi asidosis metabolic sehingga efek
asetazolamid makin lemah. Selain ion bikarbonat agaknya kadar kalium juga
penting dalam menentukan efek diuresis asetazolamid, karena pada alkalosis
ekstra sel yang sudah disertai hipokalemia, efek diuresis obat ini juga kurang.

b. Efek nonterapi dan kontraindikasi asetazolamid
Intoksikasi asetazolamid jarang terjadi. Pada dosis tinggi dapat timbul
parestesia dan kantuk yang terus menerus. Asetazolamid mempermudah pembentukan
batu ginjal karena berkurangnya ekskresi sitrat, kadar kalium dalam urin tidak
berubah atau meningkat.Reaksi alergi yang jarang terjadi berupa demam, reaksi
kulit, depresi sumsum tulang dan lesi renal mirip reaksi terhadap sulfonamid.

c. Indikasi.
Asetazolamid yang utama ialah untuk menurunkan tekanan intraokuler pada
penyakit glaucoma. Asetazolamid berguna mengatasi paralisis periodic bahkan
yang yang disertai hipokalemia
.
d. Sediaan dan pasologi
Asetazolamid tersedia dalam bentuk tablet 125 mg dan 250 mg untuk pemberian
oral. Dosis antara 250-500 mg per kali, dosis untuk chronic simple glaucoma
yaitu 1000mg per hari. Natrium asetazolamid untuk pemberian parenteral hendaknya
diberikan satu kali sehari, kecuali bila dimaksudkan asidosis metabolik maka
obat ini diberikan setiap 8 jam. Tetapi sediaan ini terdapat di Indonesia,
demikian juga sediaan yang berbentuk sirup. Dosis dewasa untuk acute mountain
sickness yaitu 2 kali sehari 250 mg, dimulai 3-4 hari sebelum mencapai
ketinggian 3000 meter atau lebih, dan dilanjutkan untuk beberapa waktu sesudah
dicapai ketinggian tersebut.
Dosis untuk paralisis periodik yang bersifat familier (familial periodic
paralysis) yaitu 250-750 mg sehari dibagi dalam 2 atau 3
dosis, sedangkan untuk anak-anak 2-3 kali sehari 125 mg. Diklorofenamid dalam
satu tablet 50 mg efek optimal dapat dicapai dengan dosis awal 200 mg sehari,
serta metazolamid dalam tablet 25 mg dan 50 mg dan doosis 100-300 mg sehari,
tidak terdapat dipasaran.

e. Bagian-bagian yang mengandung enzim Karbonik anhidrase diantaranya:
1) Mata
Dalam cairan bola mata banyak sekali terdapat enzim karbonik anhidrase dan
bikarbonat. Pemberian asetazolamid baik secara oral maupun parental, mengurangi
pembentukan cairan bola mata disertai penurunan tekanan intrakouler sehinga
asetazolamid berguna dalam pengobatan gloukoma. Efek ini mungkin disebabkan
oleh penghambatan terhadap karbonik anhidrase.

2) Susunan syaraf pusat
keadaan asidosis dapat mengurangi timbulnya serangan epilepsi, dalam keadaan
klinik ini dicapai dengan memberikan diet ketagonik pada penderita. Karena
asetazolamid dapat menimbulkan asidosis dan SSP banyak mengandung karbonik
anhidrase, maka diduga bahwa obat ini dapat dipakai mengobati penyakit
epilepsy.
Asetazolamid kurang mempengaruhi aktifitas karbonik anhidrase dieritrosit
sehingga pengaruh langsung terhadap pernafasan tidak ada. Asetazolamid mudah
diserap melalui saluran cerna, kadar maksimal dalam darah dicapai dalam 2 jam
dan ekskresi melalui ginjal sudah sempurna dalam 24 jam.Obat ini mengalami
proses sekresi aktif oleh tubuli dan sebagian diabsorpsi secara pasif.
Asetazolamid terikat kuat pada karbonik anhidrase, sehingga terakumulasi dalam
sel yang banyak mengandung enzim ini, terutama sel eritrosit dan korteks
ginjal.


B. OBAT-OBAT YANG MEMPENGARUHI KONSERVASI AIR

1. ADH
a. Definisi
ADH (hormone anti diuretik) disebut juga vasopressin merupakan suatu oktapeptid
yang diproduksi oleh saraf dalam nucleus supraoptikus dan paraventrikularis di
hipitalamus. Melalui serabut saraf, ADH di transport ke sel-sel pituisit
hipofisis posterior. Di hipofisis posterior, vasopressin ini terikat pada suatu
protein spesifik yang disebut neurofisin, ikatan ini dapat dilepaskan dengan
perangsangan listrik atau pemberian asetilkolin.

b. Pengaturan Sekresi vasopressin diatur oleh beberapa mekanisme :
1) Konsep osmoreseptor yang diduga terletak didaerah nukleus hipotalamus, bila
osmolalitas plasma bertambah akibat dehidrasi, maka sekresi ADH bertambah.
Sebaliknya pada keadaan hidrasi sekresi, ADH akan berkurang sehingga kadarnya
dalam plasma maupun dalam urin tidak dapat diukur.
2) Konsep reseptor volume, yang terletakdi atrium kiri dan vena pulmonalis.
Bila terjadi penurunan volume darah yang beredar, misalnya akibat pendarahan
hebat akan terjadi perangsangan sekresi ADH, sebaliknya bila volume darah yang
beredar nertambah banyak maka sekresi ADH ditekan.
3) Selain kedua macam mekanisme diatas, sekresi vasopressin meningkat akibat stress
emosional atau fisik, atau seperti nikotin, klofibrat, siklofosfamid,
antidepresan trisiklik,dan karbamazepin
.
c. Efek ADH pada ginjal
Setelah dilepas oleh kelenjar hipofisis posterior ADH akan disirkulasi oleh
pembuluh darah dan pada individu dewasa ADH mempunyai waktu paruh sekitar 17-35
menit. Ada beberapa faktor yang terlibat dalam eliminasi hormone dan darah yang
paling penting yaitu pemutusan rantai peptida oleh enzim peptidase.

d. Obat-obat yang dapat memodifikasi efek ADH
Kloropamazin, paracetamol dan indometasinmeningkatkan kerja ADH, artinya obat
ini men”sensitisasi” ginjsl terhadap ADH yang sebenarnya terlalu rendah untuk
merangsang reabsorpsi air.Hal ini mungkin sebagian dapat diterangkan melalui
adanya penghambatan biosintesis PG di ginjal.

e. Efek ADH di luar ginjal
Efek ADH pada jantung merupakan efek tidak langsung, yaitu karena adanya
vasokonstriksi pembuluh darah koroner, penurunan aliran darah koroner dan
adanya perubahan tonus vegal dan tonus simpatis secara refleks.

f. Efek samping
Suntikan ADH dosis besar menyebabkan vasokonstriksi, tekanan darah naik dan
kulit jadi pucat. Peristaltis usus meningkat, menyebabkan rasa mual dan kolik
usus. Pada wanita ADH menyebabkan spasme uterus.

g. Penggunaan klinik
Vasopresin terutama digunakan untuk pengobatan diabetes insipidus akibat
kekurangan hormon tersebut. Untuk penggunaan kronis, digunakan sediaan suntikan
vasopressin tanat dengan dosis 0,25-1 atau lebih per hari.

h. Sediaan
ADH tersedia dalam bentuk injeksi dan untuk pemberian intrasal, yaitu
vasopressin suntikan 20 U/ml terdapat dalam ampul 0,5 dan 1 ml untuk penggunaan
subkutan atau IM. Vasopresin tanat 5U/ml untuk suntikan IM. Bubuk hipofosis
untuk insuflasi hidung.

2. BENZOTIADIAZID
Klorotiazid dan tiazid yang lain ternyata juga dapat menyebabkan berkurangnya
poliuria pada penderita diabetes insipidus, dan sekarang telah mantap digunakan
untuk pengobatan diabetes insipidus terutama yang resistan terhadap ADH atau
yang disebut diabetes insifidus nefrogen. Dengan tiazid, poliuria yang hebat
akan berkurang, volume urin lebih sedikit, sehingga kegiatan penderita
sehari-hari tidak terganggu. Pada bayi dan anak dengan diabetes insipidus yang
resistan terhadap ADH, efek antidiuretik ini menjadi sangat penting sebab
poliuria yang tidak terkendal akibat kemampuan pasien untuk minum maupun
mengabsorpsi cairan mengakibatkan dehidrasi.



3. PENGHAMBAT SINTESIS PROSTAGLADIN
Indometasin ternyata juga efektif untuk pengobatan kasus diabetes insipidus
nefrogen yang herediter, sedangkan penghambat sintesis Pg yang lain misalnya
ibuprofen kurang efektif dibandingkan indometasin. Cara kerjanya belum jelas,
mungkin sekali menyangkut beberapa cara, misalnya adanya penurunan filtrasi
glomerulus, peninggian kadar zat terlarut di daerah medulla ginjal, atau adanya
peningkatan reabsorpsi cairan di tubuli proksimal.


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Diuretik adalah obat yang menambah kecepatan pembentukan urin. .Fungsi utama
diuretik adalah memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah keseimbangan
cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali menjadi
normal. Secara umum diuretic dibagi menjadi dua golongan yaitu diuretic osmotik
dan Diuretik penghambat mekanisme transport elektrolit di dalam tubuli ginjal.
Obat yang mempengaruhi konservasi air diantaranya ADH (hormon anti diuretik)
yaitu suatu oktapeptid yang diproduksi oleh saraf dalam nucleus supraoptikus
dan paraventrikularis di hipitalamus.




DAFTAR PUSTAKA


Goodman & gillman’s, the pharma cological basis of theraupetics, 8th ed.
Mac Millan Publishing company, 1990.
Basic & clinical pharmacology. Betram G. Katzung. 5th edition, 1993
Anoniem, 1972, farmakope indonesia, edisi II, Dep. Kes. Rep. Indonesia,
Jakarta.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Re: Kemotrapi Parasit   15th March 2013, 2:56 pm


Kemoterapi Parasit







KEMOTERAPI DAN ANTIMIKROBA LAIN
Kemoterapi adalah tindakan/terapi pemberian senyawa kimia (obat) untuk
mengurangi, menghilangkan atau menghambat pertumbuhan parasit atau
mikroba di tubuh hospes (pasien).
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia.
Penggolongan antimikroba dan kemoterapi
Kemoterapi dan antimikroba lain dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Antimikroba untuk tuberkulosa / obat tb
2. Antimikroba untuk virus/ anti virus
3. Kemoterapi untuk kanker/ obat kanker

Kemoterapi golongan antiamuba
Berdasarkan tempat kerjanya, antiamuba yang dipasarkan di Indonesia
adalah antiamuba yang bekerja pada lumen usus dan jaringan yaitu
metronidazol dan turunannya.

Kemoterapi golongan antelmintik / obat cacing
Antelmintik atau obat cacing ialah obat yang digunakan untuk memberantas
atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh.
Kebanyakan obat cacing efektif terhadap satu macam kelompok cacing,
sehingga diperlukan diagnosis dengan menemukan cacing, telur cacing dan
larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain penderita.
Kebanyak obat cacing diberikan secara oral, pada saat makan atau sesudah makan.
Kemoterapi golongan antimalaria / obat malaria
Secara klinis ada tiga macam penyakit malaria. Malaria tropika yang
disebabkan oleh P.falciparum yang cenderung menjadi akut, tetapi bila
cepat diobati, hasil pengobatannya memuaskan.
Malaria tersiana yang disebabkan oleh P. vivax, yang cenderung menjadi
kronis. Dan malaria kuartana yang disebabkan oleh P.malaria dan terdapat
banyak di Afrika.
Kemoterapi golongan antifungal / obat jamur
Secara umum infeksi jamur dibedakan atas infeksi jamur sistemik/dalam
tubuh dan infeksi jamur topikal/kulit. Akan tetapi dalam pengobatannya,
ada obat jamur bisa digunakan baik sistemik maupun kulit.
Kemoterapi golongan filarisida
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat
menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas
bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai
aktivitas bakterisid.
Pemusnahan mikroba dengan antimikroba yang bersifat bakteriostatik masih
tergantung dari kesanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes/pasien.
Peranan lamanya kontak antara mikroba dengan antimikroba dalam kadar
efektif juga sangat menentukan untuk mendapatkan efeknya, khususnya pada
tuberkulosa.
Kemoterapi tidak dibatasi dengan penggunaan satu obat. Biasanya
kemoterapi berupa kombinasi dari obat yang bekerja bersama khususnya
untuk membunuh sel kanker.
Mengkombinasikan obat yang memiliki mekanisme aksi yang berbeda saat di
dalam sel dapat meningkatkan pengrusakan dari sel kanker dan mungkin
dapat menurunkan resiko perkembangan kanker yang resisten terhadap salah
satu jenis obat.
Dokter akan merekomendasikan obat kombinasi yang telah teruji pada
manusia dengan kondisi yang sama dan telah memperlihatkan efek terhadap
tipe kanker tertentu.
Untuk pemilihan antimikroba dan kemoterapi yang tepat sesuai kebutuhan
dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi
ke dokter.
Di apotik online medicastore anda dapat mencari obat untuk kemoterapi
atau antimikroba lain yang telah diresepkan dokter secara mudah dengan
mengetikkan di search engine medicastore. Sehingga anda dapat memilih
dan beli obat sesuai kebutuhan anda.
AKTIVITAS ANTIMIKROBA
Antimikroba (AM) ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang
merugikan manusia. Dalam pembicaan di sini, yang dimaksud dengan mikroba
terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit.
Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi,
yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak
antibiotik dewasa ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.
Namun dalam praktek sehari-hari AM sintetik yang tidak diturunkan dari
produk mikroba (misalnya sulfonamida dan kuinolon) juga sering
digolongkan sebagai antibiotic.
Kegiatan antibiotika untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana
Inggris dr. Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Tetapi
penemuan ini baru diperkembangkan dan dipergunakan dalam terapi di tahun
1941 oleh dr.Florey (Oxford). Kemudian banyak zat lain dengan khasita
antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik di seluruh dunia, akan
tetapi berhubung dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat
digunakan sebagai obat.
Masa perkembangan kemoterapi antimikroba sekarang dimulai pada tahun
1935, dengan penemuan sulfonamida. Pada tahun 1940, diperlihatkan bahwa
penisilin, yang ditemukan pada tahun 1929, dapat dibuat menjadi zat
kemoterapi yang efektif. Selama 25 tahun berikutnya, penelitian
kemoterapi sebagain besar berpusat sekitar zat antimikroba yang berasal
dari mikroorganisme, yang dinamakan antibiotika.
Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas selektif. Istilah
ini berarti bahwa suatu obat berbahaya bagi parasit tetapi tidak
membahayakan inang. Seringkali, toksisitas selektif lebih bersifat
relatif dan bukan absolut; ini berarti bahwa suatu obat yang pada
konsentrasi tertentu dapat ditoleransi oleh inang, dapat merusak
parasit. Antibiotika yang ideal sebagai obat harus memenuhi
syarat-syarat berikut:
• Mempunyai kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang luas (broad spectrum antibiotic)
• Tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme pathogen
• Tidak menimbulkan pengaruh samping (side effect) yang buruk pada host,
seperti reaksi alergi, kerusakan syaraf, iritasi lambung, dan
sebagainya
• Tidak mengganggu keseimbangan flora yang normal dari host seperti flora usus atau flora kulit.
Kemoterapeutika dapat melakukan aktivitasnya lewat beberapa mekanisme,
terutama dengan penghambatan sintesa materi penting dari bakteri,
misalnya:
• Dinding sel : sintesanya terganggu sehingga dinding menjadi kurang
sempurna dan tidak tahan terhadap tekanan osmotis dari plasma dengan
akibat pecah. Contohnya : kelompok penisilin dan sefalosporin.
• Membran sel : molekul lipoprotein dari mambran plasma (di dalam
dinding sel) dikacaukan sintesanya, hingga menjadi lebih permeable.
Hasilnya, zat-zat penting dari isi sel dapat merembas keluar. Contohnya :
polipeptida dan polyen (nistatin, amfoterisin) dan imidazol (mikonazol,
ketokonazol, dan lain-lain).
• Protein sel : sintesanya terganggu, misalnya kloramfenikol, tetrasiklin, aminoglikosida, dan makrolida.
• Asam-asam inti (DNA, RNA) : rifampisin (RNA), asam nalidiksat dan kinolon, IDU, dan asiklovir (DNA).
• Antagonisme saingan. Obat menyaingi zat-zat yang penting metabolisme
kuman hingga pertukaran zatnya terhenti, antara lain sulfonamida,
trimetoprim, PAS, dan INH.
Mekanisme kerja anti mikroba
Anti mikroba mempunyai mekanisme kerja utama ada lima cara antara lain sebagai berikut:
1. Pengin-aktifan enzim ttertentu
Pengin-aktifan enzim tertentu adalah mekanisme umum dari senyawa
antiseptika dan desinfektansia, seperti turunan aldehida, amida,
karbanilida, etilen-oksida, halogen, senyawa-senyawa merkuri dan senyawa
ammonium kuarterner.
2. Denaturasi protein
Turunan alcohol, halogen, dan halogenator, senyawa merkuri, per-oksida,
turunan fenol dan senyawa ammonium kuarterner bekerja sebbagai
antiseptika dan desinfekstan dengan cara denaturasi dan konjugasi
protein sel bakteri.
3. Mengubah permebilitas memmbran sitoplasma bakteri.
Cara ini adalah model kerja dari turunan amin dan guanidin, turunan
fenol dan senyawa-senyawa tersebut dapat menyebabkan bocornya konstituen
sel yang essensial, sehingga bakteri mengalami kematian.
4. Intekalasi ke dalam DNA
Beberapa zat warna seperti turunan trifenilmetan dan turunan akridin,
bekerja sebagai antibakteri dengan mengikat secara kuat asam nukleat,
menghambat sintesa DNA dan menyebabkan perubahan kerangka mutasi pada
sintesis protein.
5. Pembentukan khelat
beberapa turunan fenol, seperti heksokloroform dan oksikuinolin dapat
membentuk khelat dengan ion Fe dan Cu, kemudian bentuk khelat tersebut
masuk ke dalam sel bakteri. Kadar yang tinggi dari ion-ion logam di
dalam sel menyebabkan gangguan fungsi enzim-enzim, sehingga
mikroorganismenya mengalami kematian.
6. Bersifat sebagai antimetabolit
AM bekerja memblok tahap metabolik spesifik mikroba, seperti pada
sulfonamida dan trimetropin. Sulfonamida menghambat pertumbuhan sel
dengan menghambat sintesis asam folat oleh bakteri. Sulfonamide secara
struktur mirip dengan asam folat, para amino benzoic acid (PABA), dan
bekerja secara kompetitif untuk enzim-enzim yang langsung mempersatuakan
PABA dan sebagian pteridin menjadi asam dihidropteorat.
Trimetropin secara struktur analog pteridin yang dibagi oleh enzim
dihidrofolat reduktase dan bekerja sebagai penghambat kompetitif enzim
tersebut yang dapat mengurangi dihidrofolat menjadi tetra-hidrofolat.
7. Penghambatan terhadap sintesa dinding sel.
Antiemetika golongan ini dapat menghambat sintesis atau menghambat
aktivitas enzim yang dapat merusak dinding sel mikroorganisme. Yang
termasuk kelompok ini antara lain: penisilin, sefa losporin, vankomisin,
sikloserin, basitrain. Penisilin yang bekerja sebagai analog struktur
D-alanil-D-alanin yang menempati tempat dari enzim transpeptidase yang
menimbulkan crosslink antara bagian dinding sel mikroorganisme
(bakteri). Penisilin dapat menghambat pembentukan cross-link tsb.
8. Penghambatan fungsi permeabilitas membran sel.
Disini anti mikroba bekerja secara langsung pada membran sel yang
mempengaruhi permeabilitas dan menyebabkan keluarnya senyawa
intraseluler mikroorganisme (bakteri). Dalam ini antimikroba dapat: (1)
berinteraksi dengan sterol membran sitoplasma pada sel jamur seperti
Amfoterisin B dan Nistatin, (2) merusak membran sel bakteri gram
negativ, misalnya polimiksin, dan kolistin.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
 
Kemotrapi Parasit
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Study Corner-
Navigasi: