-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Omfalokel

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Omfalokel   30th March 2014, 8:04 pm

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Masalah-masalah yang terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan yang dilakukan pada saat persalinan sangatlah beragam. Trauma akibat tindakan, cara persalinan atau gangguan kelainan fisiologik persalinan yang sering kita sebut sebagai cedera atau trauma lahir. Partus yang lama akan menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis. Kebanyakan cedera lahir ini akan menghilang sendiri dengan perawatan yang baik dan adekuat.
Keberhasilan penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung dari pengetahuan dasar dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi, tindakan anestesi dan pembedahan serta perawatan pasca operasi. Penatalaksanaan perioperatif yang baik.
A. Identifikasi Masalah
1) Rumusan Masalah
a) Apa pengertian dari Omfalokel?
b) Apa saja penyebab dari Omfalokel?
c) Apa saja tanda dan gejala Omfalokel?
d) Bagaimana cara pengobatan penyakit Omfalokel?
e) Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Penyakit Omfalokel?
2) Tujuan Penulisan
Dapat membuat asuhan keperawatan terkait dengan penyakit Omfalokel.
B. Metodologi Permasalahan
1. Mengklarifikasi hal-hal yang belum diketahui dalam skenario.
Dalam hal ini kelompok akan mendefinisikan istilah-istilah dan konsep yang tidak jelas agar interpretasi terhadap informasi yang tersedia tidak perlu dipertanyakan lagi.
2. Mendefinisikan masalah.
Kelompok harus dapat mencapai kesepakatan agar setiap fenomena yang saling berhubungan dapat dijelaskan.Masalah yang ada dapat dibagi menjadi beberapa sub4 masalah agar dapat didiskusikan menurut aturan tertentu.Fungsi langkah ini adalah menuntun proses brainstorming (langkah 3) dan juga diskusi selanjutnya.
3. Menganalisa masalah.
Kelompok mencoba menentukan hal-hal yang dipikirkan oleh anggotanya, apa yang mereka ketahui atau apa yang mereka anggap mereka ketahui tentang proses dan mekanisme yanmg mendasari masalah tersebut. Melalui tehnik brainstorming ini, pengetahuan yang ada sebelumnya diaktivasi agar dasar diskusi tersedia.
4. Membuat daftar penjelasan-penjelasan yang dapat diterima.
Ide-ide dari langkah ke-3 disusun dan diperhatikan secara kritis. Pandangan – pandangan yang sepertinya seragam dikelompokkan bersama sebagai suatu kesatuan, sementara pendapat yang berbeda disortir, sehingga akan lebih jelas lagi apa yang masih harus dipelajari.
5. Merumuskan tujuan pembelajaran.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama atau sebagai hasil analisa masalah harus dijawab agar tercapai pemahaman yang lebih baik.Tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan tersebut merupakan dasar dari kegiatan belajar yang harus dilaksanakan pada tahap berikutnya. Fungsi langkah ini adalah menuntun proses belajar mandiri (active learning)
6. Mencari informasi tambahan di luar kelompok (Active learning).
Berdasarkan langkah ke-5, siswa diwajibkan mencari dan mengumpulkan informasi pada berbagai sumber acuan (kuliah, perpustakaan, internet,dll). Pada langkah ini, mahasiswa belajar untuk mengumpulkan informasi yang relevan guna menguasai masalah
7. Membuat laporan pada kelompok tentang apa yang diperoleh sewaktu belajar mandiri.
Sesuai tujuan belajar, mahasiswa akan mendiskusikan hasil kegiatan belajar mandiri.
Langkah ini memiliki 3 fungsi yaitu :
- Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber hingga tiap kesalahan dapat dikoreksi.
- Menunjukkan dan mendiskusikan hal-hal yang tidak jelas dari bahan yang dipelajari.
- Memperdalam pengetahuan para siswa dengan cara pertukaran informasi secara aktif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.DEFENISI
Omfalokel adalah penonjolan isi abdomen melalui dinding abdomen pada titik sambungan korda umbilicus dan abdomen. (Prillitteri.2002. Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak Hal. 520).

Omfalokel adalah kelainan yang berupa protusi (sembuhan) isi ronnga perut keluar di sekitar umbilicus,benjolan dan dibungkus dalam suatu kantong. (Markum,AH.1991.Ilmu Kesehatan Anak hal. 245-246).

Omfalokel adalah hernisi/benjolan isi rongga perut ke dalam dsar tali pusat. (Behrman,Ricard E.19998.Ilmu Kesehatan Anak. hal. 659).
C. ETIOLOGI
Menurut Rosa M. Scharin (2004), etiologi pasti dari omphalocele belum diketahui. Beberapa teori telah dipostulatkan, seperti :

1. Kegagalan kembalinya usus ke dalam abdomen dalam 10-12 minggu yaitu kegagalan lipatan mesodermal bagian lateral untuk berpindah ke bagian tengah dan menetapnya the body stalk selama gestasi 12 minggu.

2. Faktor resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalokel adalah resiko tinggi kehamilan seperti :
a. Infeksi dan penyakit pada ibu
b. Penggunaan obat-obatan berbahaya, merokok,
c. Kelainan genetik
d. Defesiensi asam folat
e. Hipoksia
f. Salisil dapat menyebabkan defek pada dinding abdomen.
g. Asupan gizi yang tak seimbang
h. Unsur polutan logam berat dan radioaktif yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil.
C.PATOFISIOLOGI
1. Selama perkembangan embrio,ada suatu kelemahan yang terjadi pada dinding abdomen semasa embrio yang mana menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah satu samping umbilikus.hal ini menyebabakan organ visera abdomen keluar dari kapasitas abdomen dan terbungkus kantong.
2. Terjadinya penurunan kapasitas abdomen yang dianggap anomaly.
3. Gastrokisis terbentuk akibat kegagalan fungsi dalam pembentukan dinding abdomen ,dan terbentuk defek.
4. Letak defek umumnya di sebelah kanan umbilikus
5. Usus sebagian besar berkembang di luar rongga abdomen janin,akibatnya usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi dari cairan as.amino,usus juga terlihat pendek dan rongga abdomen sempit.
6. Usus,visera dan seluruh permukaan rongga abdomen yang berhubungan dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari tubuh cepat berlangsung,sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermi,kontaminasi usus dengan kuman dapat terjadi,dan distensi usus sehingga mempersulit koreksi pemasukan kerongga abdomen pada saat pembedahan.
7. Embriogenesis pada saat janin berumur 5 -6 minggu isi abdomen terletak diluar embrio.pada usia 10minggu terjadi pegembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra peritoneum akan masukke rongga perut.bila proses ini terhambat maka akan terbentuk kantong di pangkal umbilikus yang terisi usus,lambung dan kadang hati.dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amino yang keduanya bening sehingga isi kantong tampak keluar,keadaan ini disebut omfalokel.bila usus keluar di titik terlemah dikanan umbilikus,usus akan berada diluar rongga perut tanpa di bungkus,peritoneum dan amino keadaan ini disebut gastrokhisis.
D.MANIFESTASI KLINIS
D. Menurut A.H. Markum (1991), manifestasi dari omphalokel adalah :
1. Organ visera / internal abdomen keluar
2. Penonjolan pada isi usus
3. Teridentifikasi pada prenatal dengan ultrasound

Sedang tanda yang lain :
1. Apabila berukuran kecil di dalam korda umbilicus terdapat sembuhan yang berisi usus
2. Apabila ukuran besaar di dalam korda berisi hati dan usus
3. Tali pusat tampak terletak di daerah apeckantong dengan pembuluh darah umbilicus meluncur se3panjang kantong masuk kedalam rongga perut
4. Sering ditemukan pada bayi premature
5. Umbilicus menonjol keluar.
E. PENATALAKSANAAN
Omfalokel (eksomfalokel) adalah suatu hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar dan dibungkus suatu kantong peritoneum.Penanganannya adalah secara operatif dengan menutup lubang pada pusat.Kalau keadaan umum bayi tidak mengizinkan, isi perut yang keluar dibungkus steril dulu setelah itu baru dioperasi.
Agar tidak terjadi cedera pada usus dan infeksi perut, segera dilakukan pembedahan untuk menutup omfalokel. Sebelum dilakukan operasi, bila kantong belum pecah, harus diberi merkurokrom dan diharapkan akan terjadi penebalan selaput yang menutupi kantong tersebut sehingga operasi dapat ditunda sampai beberapa bulan. Sebaiknya operasi dilakukan segera sesudah lahir, tetapi harus diingat bahwa dengan memasukkan semua isi usus dan otot visera sekaligus ke rongga abdomen akan menimbulkan tekanan yang mendadak pada paru sehingga timbul gejala gangguan pernapasan.
Penatalaksanaan prenatal pada ompalokel
Apabila terdiagnosa omphalokel pada masa prenatal maka sebaiknya dilakukan informed consent pada orang tua tentang keadaan janin, resiko terhadap ibu, dan prognosis. Informed consent sebaiknya melibatkan ahli kandungan, ahli anak dan ahli bedah anak. Keputusan akhir dibutuhkan guna perencanaan dan penatalaksanaan berikutnya berupa melanjutkan kehamilan atau mengakhiri kehamilan. Bila melanjutkan kehamilan sebaiknya dilakukan observasi melalui pemeriksaan USG berkala juga ditentukan tempat dan cara melahirkan. Selama kehamilan omphalokel mungkin berkurang ukurannya atau bahkan ruptur sehingga mempengaruhi pronosis.
Oak Sanjai (2002) meyebutkan bahwa komplikasi dari partus pervaginam pada bayi dengan defek dinding abdomen kongenital dapat berupa distokia dengan kesulitan persalinan dan kerusakan organ abdomen janin termasuk liver.Walaupun demikian, sampai saat ini persalinan melalui sectio caesar belum ditentukan sebagai metode terpilih pada janin dengan defek dinding abdomen.Ascraft (1993) menyatakan bahwa beberapa ahli menganjurkan pengakhiran kehamilan jika terdiagnosa omphalokel yang besar atau janin memiliki kelainan konggenital multipel.
Penatalaksanan postnatal (setelah kelahiran)
Penatalaksannan postnatal meliputi penatalaksanaan segera setelah lahir (immediate postnatal), kelanjutan penatalakasanaan awal apakah berupa operasi atau nonoperasi (konservatif) dan penatalaksanaan postoperasi. Secara umum penatalaksanaan bayi dengan omphalokele dan gastroskisis adalah hampir sama. Bayi sebaiknya dilahirkan atau segera dirujuk ke suatu pusat yang memiliki fasilitas perawatan intensif neonatus dan bedah anak.Bayi-bayi dengan omphalokel biasanya mengalami lebih sedikit kehilangan panas tubuh sehingga lebih sedikit membutuhkan resusitasi awal cairan dibanding bayi dengan gastroskisis.
Konservatif
Dilakukan bila penutupan secara primer tidak memungkinkan, misalnya pada omfalokel dengan diameter > 5 cm. Perawatan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Bayi dijaga agar tetap hangat
b. Kantong ditutup kasa steril dan ditetesi NaCl 0,9%
c. Posisi penderita miring
d. NGT diisap tiap 30 menit
Penatalaksanaan nonnoperasi (konservatif)
Penatalaksanaan omfalokel secara konservatif dilakukan pada kasus omfalokel besar atau terdapat perbedaan yang besar antara volume organ-organ intraabdomen yang mengalami herniasi atau eviserasi dengan rongga abdomen seperti pada giant omphalocele atau terdapat status klinis bayi yang buruk sehingga ada kontra indikasi terhadap operasi atau pembiusan seperti pada bayi-bayi prematur yang memiliki hyaline embran disease atau bayi yang memiliki kelainan kongenital berat yang lain seperti gagal jantung. Pada giant omphalocele bisa terjadi herniasi dari seluruh organ-organ intraabdomen dan dinding abdomen berkembang sangat buruk, sehingga sulit dilakukan penutupan (operasi/repair) secara primer dan dapat membahayakan bayi.Beberapa ahli, walaupun demikian, pernah mencoba melakukan operasi pada giant omphalocele secara primer dengan modifikasi dan berhasil.Tindakan nonoperatif secara sederhana dilakukan dengan dasar merangsang epitelisasi dari kantong atau selaput. Suatu saat setelah granulasi terbentuk maka dapat dilakukan skin graft yang nantinya akan terbentuk hernia ventralis yang akan direpair pada waktu kemudian dan setelah status kardiorespirasi membaik.
Beberapa obat yang biasa digunakan untuk merangsang epitelisasi adalah 0,25 % merbromin (mercurochrome), 0,25% silver nitrat, silver sulvadiazine dan povidone iodine (betadine). Obat-obat tersebut merupakan agen antiseptik yang pada awalnya memacu pembentukan eskar bakteriostatik dan perlahan-lahan akan merangsang epitelisasi. Obat tersebut berupa krim dan dioleskan pada permukaan selaput atau kantong dengan elastik dressing yang sekaligus secara perlahan dapat menekan dan menguragi isi kantong.
Indikasi terapi non bedah adalah:
Bayi dengan ompalokel raksasa (giant omphalocele) dan kelainan penyerta yang mengancam jiwa dimana penanganannya harus didahulukan daripada omfalokelnya.Neonatus dengan kelainan yang menimbulkan komplikasi bila dilakukan pembedahan. Bayi dengan kelainan lain yang berat yang sangat mempengaruhi daya tahan hidup.
Prinsip kerugian dari metode ini adalah kenyataan bahwa organ visera yang mengalami kelainan tidak dapat diperiksa, sebab itu bahaya yang terjadi akibat kelainan yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan komplikasi misalnya obstruksi usus yang juga bisa terjadi akibat adhesi antara usus halus dan kantong.
Jika infeksi dan ruptur kantong dapat dicegah, kulit dari dinding anterior abdomen secara lambat akan tumbuh menutupi kantong, dengan demikian akan terbentuk hernia ventralis, karena sikatrik yang terbentuk biasanya tidak sebesar bila dilakukan operasi. Metode ini terdiri dari pemberian lotion antiseptik secara berulang pada kantong, yang mana setelah beberapa hari akan terbentuk skar. Setelah sekitar 3 minggu, akan terjadi pembentukan jaringan granulasi yang secara bertahap karena terjadi epitelialisasi dari tepi kantong. Penggunaan antiseptik merkuri sebaiknya dihindari karena bisa menghasilkan blood and tissue levels of mercury well above minimum toxic levels. Alternatif lain yang aman adalah alkohol 65% atau 70% atau gentian violet cair 1%. Setelah keropeng tebal terbentuk,bubuk antiseptik dapat digunakan. Hernia ventralis memerlukan tindakan kemudian tetapi kadang-kadang menghilang secara komplet.
Penatalaksanaan dengan operasi
Tujuan mengembalikan organ visera abdomen ke dalam rongga abdomen dan menutup defek. Dengan adanya kantong yang intak, tak diperlukan operasi emergensi, sehingga seluruh pemeriksaan fisik dan pelacakan kelainan lain yang mungkin ada dapat dikerjakan. Keberhasilan penutupan primer tergantung pada ukuran defek serta kelainan lain yang mungkin ada (misalnya kelainan paru).
Tujuan operasi atau pembedahan ialah memperoleh lama ketahanan hidup yang optimal dan menutup defek dengan cara mengurangi herniasi organ-organ intra abomen, aproksimasi dari kulit dan fascia serta dengan lama tinggal di RS yang pendek. Operasi dilakukan setelah tercapai resusitasi dan status hemodinamik stabil.Operasi dapat bersifat darurat bila terdapat ruptur kantong dan obstruksi usus.
Operasi dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu primary closure (penutupan secara primer atau langsung) dan staged closure (penutupan secara bertahap).
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
· pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan maternal serum alfa fetoprotein (MSAFP).Diagnosis prenatal defek pada dinding abdome dapat di deteksi dengan peningkatan serum MSAFP
· USG
· Radiologi
Fetal sonography dapat menggambarkan kelainan genetik dengan memperlihatkan marker struktural ,.
Echocardiography fetus untuk membantu melihat kelainan jantung.
G. KOMPLIKASI
Komplikasi dini merupakan infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang telanjang. Kelainan kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang memperburuk prognosi.
komplikasi dari omphalokel adalah :
- Komplikasi dini adalah infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang telanjang.
- Kekurangan nutrisi dapat terjadi sehingga perlu balans cairan dan nutrisi yang adekuat misalnya dengan nutrisi parenteral.
- Dapat terjadi sepsis terutama jika nutrisi kurang dan pemasangan ventilator yang lama.
- Nekrosis
BAB III
PEMBAHASAN
Skenario
Bayi A (BBL) dirawat di ruang perinatologi dengan alasan ususnya keluar dari rongga abdomen.Berdasarkan hasil pemeriksaan terlihat kantong yang berisi usus.Diruang perina bayi dimasukkan dalam incubator. Bayi terpasan OGT,ASI 6X25 cc,ceftazidime 3x1. Terlihat usus ditutipi dengan kasa steril lembab dengan cairan NaCl.
Ø Istilah yang tidak dimengerti
1. OGT : Oral Gastro Tube alat yang dimasukkan mulut bayi untuk memasukkan makanan.
2. Ceftazidime : anti biotik
3. Incubator :untuk memanaskan tubuh bayi.
Ø Pertanyaan dan jawaban
1. Apa penyebab usus bayi keluar ?
2. Apa diagnosa medis ?
3. Kenapa bayi dipasang OGT?
Jawaban
1. Adanya kelemahan pada dinding perutsehingga organ yang lain seperti usus keluar.
2. OMFALOKEL
3. Untuk memenuhi asupan kebutuhan nutrisi pada bayi.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Identitas pasien
· Nama : bayi A
· Umur : BBL
· Jenis kelamin : -
· Alamat : -
· Diagnosa medis : Omfalokel
Riwayat penyakit :
Dahulu : -
Sekarang :
Bayi A (BBL) dirawat di ruang perinatologi dengan alasan ususnya keluar dari rongga abdomen.Berdasarkan hasil pemeriksaan terlihat kantong yang berisi usus
Keluarga : -
Masalah Spiritual : -
Masalah Psikososial : -
Pemeriksaan fisik :
ABDOMEN
I : ususnya keluar dari rongga abdomen,terlihat kantong yang berisi usus
A : -
P : -
P : -
Data penunjang :
Analisis data
No
Data

Etiologi

Mk
1 Ds : -

Do :
,OGT ceftazidime 3x1
Kelemahan dinding anterior abdomen pada dasar dari umbilical



Herniasi isi usus



Defek pada dinding abdomen



organ internal abdomen keluar
Kontaminasi usus dengan kuman



Resiko infeksi
Resiko infeksi
2 Do : Terlihat usus ditutupi dengan kasa sterillembap dengan cairan NaCl
Kelemahan dinding anterior abdomen pada dasar dari umbilical



Herniasi isi usus



Defek pada dinding abdomen


Organ internal abdomen keluar
Penguapan dan pancaran tubuh cepat berlangsung
dehidrasi
resiko kekurangan volume cairan

Diagnosa keperawatan dan intervensi.
1. Resiko infeksi berhubungan dengan isi abdomen yang keluar
Intervensi :
Ø Cuci tangan sebelum dan sesudah dalam melakukan tindakan.
Ø Gunakan sabun anti mikroba untuk mencuci tangan.
Ø Gunakan baju,sarung tangan sebagai alat pelindung.
Ø Berikan antibiotik : ceftazidime.
Ø Tingkatkan intake nutrisi.
Ø Dorong masukan cairan.
2. Resiko kekurangan cairan b.d dehidrasi.
Ø Pertahankankan intake dan out put yang kuat
Ø Monitor status dehidrasi (membran mukosa)
Ø Pantau status hemodinamik
Ø Monitor berat badan
Evaluasi:
Ø Bayi bebas dari gejala infeksi
Ø Keseimbangan intake dan out put
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Omfalokel (eksomfalokel) adalah suatu hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar dan dibungkus suatu kantong peritoneum.Penanganannya adalah secara operatif dengan menutup lubang pada pusat.Kalau keadaan umum bayi tidak mengizinkan, isi perut yang keluar dibungkus steril dulu setelah itu baru dioperasi.
Agar tidak terjadi cedera pada usus dan infeksi perut, segera dilakukan pembedahan untuk menutup omfalokel. Sebelum dilakukan operasi, bila kantong belum pecah, harus diberi merkurokrom dan diharapkan akan terjadi penebalan selaput yang menutupi kantong tersebut sehingga operasi dapat ditunda sampai beberapa bulan. Sebaiknya operasi dilakukan segera sesudah lahir, tetapi harus diingat bahwa dengan memasukkan semua isi usus dan otot visera sekaligus ke rongga abdomen akan menimbulkan tekanan yang mendadak pada paru sehingga timbul gejala gangguan pernapasan.

Daftar Pustaka
· Sudoyo Aru W,Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi IV :2006
· Smeltzer,suzanna C,Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,Brunner dan suddarth.Alih bahasa Agung waluyo,Edisi 8,Jakarta,Egc,2001.
· Nanda Internasional,Diagnosis Keperawatan definisi dan Klasifikasi EGC,2009 -2011
· Diagnosa Keperawatan Nanda,NIC-NOC Nursing
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
 
Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Omfalokel
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Kumpulan ASKEP dan LP-
Navigasi: