-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Kontusio Paru | Contusio Pulmonal

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Kontusio Paru | Contusio Pulmonal   8th September 2014, 6:00 pm

BAB I
PENDAHULUAN 

1.1           Latar belakang
Trauma toraks mencakup area anatomis leher dan toraks serta dapat menyebabkan kelainan pada sistem respirasi, sistem sirkulasi, dan sistem pencernaan. Menurut salah satu buku rujukan disebutkan angka mortalitas pada trauma toraks mencapai 10%. Akan tetapi kematian akibat trauma toraks merupakan 1/4 jumlah kematian total akibat kasus-kasus trauma.
Salah satu jenis trauma toraks adalah kontusio pulmonal. Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru yang dapat terjadi  pada cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat.

1.2           Tujuan
1.2.1         Menjelaskan  tentang kontusio pulmonal
1.2.2         Menjelaskan  askep kontusio pulmonal
1.2.3         Menyelesaikan tugas KGD

1.3           Manfaat
    1.3.1    Agar dapat memahami tentang kontusio pulmonal
    1.3.2.   Agar dapat memahami hal-hal yang berhubungan dengan  kontusio pulmonal
    1.3.3.   Agar dapat memahami askep kontusio pulmonal










BAB II
PEMBAHASAN 

2.1         Definisi
Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru yang dapat terjadi  pada cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat.

2.2         Etiologi
·      Trauma toraks
·      Kecelakaan lalu lintas
·      Terjadi terutama setelah trauma tumpul toraks
·             Dapat pula terjadi pada trauma tajam dg mekanisme perdarahan dan edema parenkim

2.3         Manifestasi Klinis
·      Dapat timbul atau memburuk dalam 24-72 jam setelah trauma
·      Dispnea
·      ↓ PaO2 arteri
·      Ronki
·      Infiltrat pada foto thoraks
·      Pada kondisi berat dapat disertai : sekret trakeobronkial yang banyak, hemoptisis, dan edema paru

Primary Surveys
Pada primary surveys  di TKP yang dinilai adalah ABC
A = Airway
·      Kelancaran jalan napas
·      Jika penderita dapat berbicara mengindikasikan A-nya baik
·      Identifikasi kemungkinan-kenungkinan obstruksi A oleh karena benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea, fraktur servikal
B = Breathing
·             Melibatkan paru, dinding dada, dan diafragma harus dievaluasi secara cepat
·      Dada penderita harus dibuka untuk melihat ekspansi pernapasan
·      Auskultasi untuk memastikan udara masuk ke paru-paru
·      Perkusi untuk menilai adanya udara atau darah pada rongga pleura
·      Inspeksi dan palpasi dapat menilai kelainan dinding dada
C = Circulation
·      Penilaian volume darah dan CO
o  Tingkat kesadaran : akibat ↓ suplai darah ke otak, kesadaran ↓
o  Warna kulit (dapat membantu diagnosis hipovolemik) : wajah yang pucat keabuan, kulit ekstrimitas yang pucat  menandakan hipovolemik
o  Nadi, periksa pada nadi yang besar (Femoralis, karotis) untuk kekuatan, kecepatan, dan irama :
*  tidak cepat, kuat, teratur = normovolemi
*  cepat, kecil = hipovolemi
*  tidak teratur = biasanya gangguan jantung
*  tidak ditemukan = perlu resusitasi segera
·      Penilaian perdarahan
Ada atau tidak perdarahan luar ataupun perdarahan dalam /tidak terlihat.
Contoh : Perdarahan pada rongga thoraks, abdomen, sekitar fraktur dari tulang panjang, retroperitoneal akibat fraktur pelvis, atau sebagai akibat luka tembus dada/perut

Secondary Surveys
D : (Sepintas bisa primary. Tapi selengkapnya bisa secondary)
·      Tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda – tanda lateralisasi, tingkat/level cidera spinal :
o  Tingkat kesadaran dapat dinilai dengan GCS atau APVU.
o  Penurunan kesadaran dapat disebabkan :
©  ↓ oksigenasi  (hipoksia)  atau hipoperfusi  (hipovolemi) ke otak
©  Trauma langsung pada otak / trauma kapitis
©  Obat-obatan, alkohol
E : (secondary)
·      Pemeriksann head to toe
·      periksa kemungkinan-kemungkinan trauma lain
·      jaga suhu tubuh pasien / cegah hipotermia (selimuti,dll)

2.4         Faktor Risiko
·      Trauma toraks
·      Fraktur iga

2.5         Penatalaksanaan
Resusitasi  Awal :
A = Airway
·      Usaha untuk membebaskan A harus melindungi vertebra servikal
·      Dapat dengan chin lift atau jaw thrust
·      Dapat pula dengan naso-pharyngeal airway atau oro-pharyngeal airway
·      Selama memeriksa dan memperbaiki A tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi leher
·             Pertimbangkan bantuan A definitif (krikotiroidotomy, ETT,dll) kalau ragu berhasil
B = Breathing
·      Kontrol airway pada penderita yang terganggu karena faktor mekanik, gangguan ventilasi, atau  ada gangguan kesadaran bisa dengan intubasi ETT (oral/nasal) jika ETT tidak bisa (karena KI atau masalah teknis), bisa surgical A / krikotiroidotomy
·      Setiap penderita trauma, beri O2 jika tidak intubasi, bisa pakai sungkup
C = Circulation
·      Jika ada perdarahan arteri luar, harus segera dihentikan, bisa dengan balut tekan atau dengan spalk udara. Jangan pakai Torniquet, karena dapat merusak jaringan dan menyababkan iskemia distal, sehingga torniquet hanya dipakai jika ada amputasi traumatik
·      Jika ada gangguan sirkulasi pasang iv line (sekalian ambil sampel darah untuk diperiksa lab rutin dan  tes kehamilan).
·      Infus RL / kristaloid lain 2-3 L. Jika tidak respon beri transfusi dari gol darah yang sesuai. Kalau tidak ada beri gol darah O Rh – / gol O Rh + titer rendah yang dihangatkan dulu untuk mencegah hipotermia
·      Jangan beri vasopresor, steroid, bicarbonat natricus

Penatalaksanaan tambahan :
·      Monitor EKG
·      Pasang kateter urin dan lambung
·      Rontgen , dll.

Tujuan penatalaksanaan :
·      Mempertahankan oksigenasi
·      Mencegah/mengurangi edema
Tindakan : bronchial toilet, batasi pemberian cairan (iso/hipotonik), O2, pain control, diuretika, bila perlu ventilator dengan tekanan positif (PEEP > 5)
o  Intubasi ET untuk dapat melakukan penyedotan dan memasang ventilasi mekanik dengan continuous positive end-expiratory pressure (PEEP)

2.6         Prognosis
Dengan diagnosis yang cepat dan penanganan yang tepat prognosisnya baik

2.7         Komplikasi
Komplikasi dari kontusio paru adalah Sindrom distres pernapasan pada dewasa

2.8         Askep kontusio paru
A. Pengkajian
1.  Aktivitas / istirahat
Gejala    : dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
2.  Sirkulasi
Tanda    : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah, tanda Homman ; TD : hipotensi/hipertensi ; DVJ.
3.  Integritas ego
Tanda    : ketakutan atau gelisah.
4.  Makanan dan cairan
Tanda    : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
5.  Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala    : nyeri uni lateral, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher, bahu dan abdomen.
Tanda    : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah.
6.  Pernapasan
Gejala    : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma, penyakit paru kronis, inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial menyebar, keganasan ; pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM.
Tanda    : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak ada ; fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakan dada tidak sama ; kulit pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan ; mental ansietas, bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif.
7.  Keamanan
Gejala    : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk kkeganasan.
8.  Penyuluhan/pembelajaran
Gejala    : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah intratorakal/biopsy paru.


B. Diagnose Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami kontusio paru adalah sebagai berikut :
1.  Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2.  Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
3.  Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
4.  Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.
C. Intervensi Keperawatan
1.  Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektive.
Kriteria hasil :
o Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
o Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
o Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
Intervensi
Rasional
1.      Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
2.      Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.


3.             Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.


4.      Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
5.      Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
6.             Kolaborasi dengan tim kesehatan lain  (Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi) untuk :
 Pemberian antibiotika.
 Pemberian analgetika.
 Fisioterapi dada.
 Konsul photo toraks
1.      Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit

2.             Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
3.      Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
4.      Pengetahuan diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik
5.             Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
6.      Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

2.  Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
Tujuan : Jalan napas lancar/normal
Kriteria hasil :
• Menunjukkan batuk yang efektif.
• Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
• Klien nyaman.
Intervensi :
Rasional
1.             Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. Pernapasan
2.      Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

3.      Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
4.             Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
5.      Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
6.      Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.) untuk :
 Pemberian expectoran.
 Pemberian antibiotika.
 Fisioterapi dada.
 Konsul photo toraks
1.       Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
2.       Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
3.               Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
4.       Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.


5.               Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
6.       Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

3.  Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
• Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
• Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan nyeri.
• Pasien tidak gelisah.
Intervensi :
Rasional
1.                Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

2.                Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
3.                Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.


4.       Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.
5.                Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.
1.                    Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri
2.                    Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

3.                    Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik
4.         Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.
5.         Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat

4.  Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil :
• tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
• luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
• Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi :
Rasional
1.      Pantau tanda-tanda vital.

2.      Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
3.      Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
4.      Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.

5.      Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
1.             mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
2.      mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
3.      untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

4.      penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
5.      antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.




























BAB III
P E N U T U P

3.1     Kesimpulan
·          Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru yang dapat terjadi  pada cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat.

INGAT, REFERENSI yang TERBAIK TETAPLAH PADA BUKU BUKAN INTERNET
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
 
Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Kontusio Paru | Contusio Pulmonal
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Kumpulan ASKEP dan LP-
Navigasi: