-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Studi Kasus Giar Jovian BAB 1

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Studi Kasus Giar Jovian BAB 1   16th April 2015, 11:31 am

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan masalah yang sangat penting. Karena dapat menyangkut keselamatan dan kerugian diri sendiri maupun orang lain. Tidak hanya itu, gangguan jiwa merupakan penyakit medis yang kompleks, meliputi segi fisik, pola hidup dan riwayat perkembangan psikologis atau kejiwaan seseorang (Videbeck, 2008).
Isolasi sosial merupakan keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Damayanti, 2008).
Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan sementara, identitas pribadi tetap dipertahankan. Individu juga harus membina hubungan saling tergantung, yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan. Ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan jiwa. Satu diantaranya adalah isolasi sosial (Stuart & G, 2006).
Menurut WHO (2013), sedikitnya 25 juta penderita gangguan jiwa di seluruh dunia dengan angka kejadian insiden yang relatif rendah tetapi prevalensi tinggi yaitu 7 Per 1000 populasi orang dewasa, terutama pada kelompok usia 15-35 tahun yaitu 3 Per 10.000 penduduk.
Kepala kalitbang kementerian kesehatan Trihono mengatakan, dari temuan dilapangan terlihat prevalensi penderita gangguan jiwa berat sebanyak 1,7 per 1000 orang. Hasil Rinkesdes tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa beratdi indonesia mencapai 14,3% penderita, dengan penderita terbanyak di pedesaan dibandingkan perkotaan, pergeseran penderita gangguan jiwa saat ini meningkat di pedesaan sebesar 18,3% sedangkan diperkotaan hanya 10,7%. Untuk prevalensi gangguan mental emosional diatas 15 tahun rata-rata 0,6% (Sindonews.com, Desember 2013).
Berdasarkan hasil laporan rekam medik di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang Di Ruang Kenanga bulan Pebruari tahun 2015, tercatat jumlah pasien rawat inap 11 orang, yang terdiri dari kasus Halusinasi Dengar (3 orang), Halusinasi Lihat (2 orang), Waham (2 orang), dan Isolasi Sosial (4 orang). Dari uraian data diatas, menyatakan masih ada pasien gangguan jiwa yang dirawat dengan kasus isolasi sosial.
Penyebab dari isolasi sosial adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan yang ditandai dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri kurang dan juga dapat mencederai diri (Soedirman, 2010).
Dampak yang akan terjadi pada klien dengan isolasi sosial jika tidak diatasi akan mengakibatkan terjadinya halusinasi dan akan terjadi resiko tinggi menciderai diri, orang lain, dan lingkungan. Dampak lain yang timbul bagi masyarakat berupa penolakan, pengucilan, dan diskriminasi. Keluarga dan masyarakat menganggap gangguan jiwa (isolasi sosial) merupakan penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarga (Soedirman, 2010).
Pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari gangguan jiwa antara lain pencegahan primer yang mengacu pada promosi kesehatan dan memodifikasi satu atau lebih faktor (pada pasien dengan faktor genetik gangguan jiwa diajarkan manajemen stress dan ketrampilan pencegahan masalah) dan pencegahan sekunder dengan mengidentifikasi awal individu dengan prodromal atau gejala awal penyakit untuk mengurangi morbiditas akibat bunuh diri melalui pengobatan yang tepat.
Peran perawat dalam menangani kasus isolasi sosial sangat penting, yaitu peran dalam upaya pelayanan kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta menurunkan angka kesakitan kesehatan jiwa di masyarakat dengan mengadakan penyuluhan kesehatan jiwa (Kemenkes RI, 2011).
Dengan melihat uraian data diatas, maka penulis ingin mengangkat masalah utama Isolasi Sosial, di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan keperawatan jiwa terhadap kasus pada isolasi sosial di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang, melalui pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

1.2.2 Tujuan Khusus
1) Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan isolasi sosial di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
2) Dapat menyusun dan memprioritaskan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan isolasi sosialdi ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
3) Dapat menyusun rencana tindakan keperawatan yang muncul pada diagnosa keperawatan isolasi sosial pada klien di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
4) Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada rencana tindakan pada klien dengan isolasi sosial di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
5) Dapat mengevaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan kepada klien dengan isolasi sosial di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
6) Dapat mendokumentasikan proses keperawatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial di ruang Kenanga RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.






1.3 Manfaat
1.3.1 Teoritis
Merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal pengembangan ilmu dan penerapan asuhan keperawatan pada kasus isolasi sosial yang sesuai dengan materi mata kuliah keperawatan jiwa.
1.3.2 Praktis
1) Bagi Penulis
(1) Dapat mahir dalam menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan isolasi sosial di rumah sakit maupun di lingkungan masyarakat.
(2) Sebagai penerapan ilmu yang telah diperoleh terutama mengenai asuhan keperawatan pada pasien isolasi sosial.
(3) Menambah pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dalam berinteraksi dengan klien, dan pengalaman mengenai penelitian.
2) Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai sumber pengetahuan bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan asuhan keperawatan pada klien dengan kasus isolasi sosial.
3) Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang tentang penulisan dan penerapan asuhan keperawatan khususnya pada kasus dengan isolasi sosial.



1.4 Tempat Dan Waktu
Asuhan keperawatan jiwa mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi dilakukan di RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang ruang Kenanga pada tanggal 2 Pebruari sampai dengan 14 Pebruari 2015.

1.5 Metode Penelitian Dan Tehnik Pengumpulan Data
1.6.1 Metode Penelitian
1) Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas(Sugiyono, 2009).
2) Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan merupakan kegiatan mencari informasi melalui beberapa sumber secara langsung untuk memperoleh jawaban secara langsung mengenai proses asuhan keperawatan (Nursalam, 2011).
3) Studi Dokumen
Metode pengumpulkan data dengan mengambil data yang berasal dari dokumen asli yang berupa gambar, tabel, atau daftar periksa dan film dokumenter (Hidayat, 2009).
4) Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian. Selama proses pengumpulan data, pemilih memfokuskan pada penyediaan subjek, melatih tenaga pengumpul data (jika diperlukan), dan memerhatikan prinsip-prinsip validitas dan reliabilitas (Nursalam, 2008).
Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini berupa studi kasus, adalah :
(1) Wawancara
Pengamatan langsung pada pasien Tn ”M” dengan isolasi sosial di ruang Kenanga RSJ Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang dengan prinsip mengutamakan pasien, menjaga privasi, menciptakan lingkungan yang kondusif, wawancara harus fleksibel, tidak kaku atau terkesan mendikte, bina hubungan saling percaya dan pertanyaan harus disusun secara terstruktur.
(2) Observasi
Pada tahap ini dilakukan pengamatan secara umum terhadap perilaku dan keadaan klien yang memerlukan keterampilan, disiplin, dan praktik klinik (Rohmah, 2009).
(3) Pemeriksaan Fisik
Pengkajian Fisik difokuskan pada system fungsi organ yang meliputi mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital (Tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan klien), mengukur tinggi badan dan berat badan klien, menanyakan apakah berat badan naik atau turun,apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh klien dan melakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut (Hartono, 2011).

(4) Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan sesuai dengan indikasi, contoh : foto thoraks, laboratorium, rekam jantung, dan lain – lain (Rohmah, 2009).

5) Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam menyususn karya tulis ilmiah berupa studi kasus, diperoleh dari data primer dan sekunder serta dari data subjektif dan objektif melalui tehnik wawancara.

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
 
Studi Kasus Giar Jovian BAB 1
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Kumpulan ASKEP dan LP-
Navigasi: