-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Manajemen Kegawatdaruratan Decompensasi Cordis

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Manajemen Kegawatdaruratan Decompensasi Cordis   6th May 2015, 1:00 pm

        Manajemen Kegawatdaruratan Decompensasi Cordis
Pengkajian Airway, Breathing, dan Circulation
Menurut Susilo, H (2012), Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pertolongan. Semakin cepat pasien ditemukan maka semakin cepat pula pasien tersebut mendapat pertolongan sehingga terhindar dari kecacatan atau kematian. Kondisi kekurangan oksigen merupakan penyebab kematian yang cepat. Kondisi ini dapat diakibatkan karena masalah system pernafasan ataupun bersifat sekunder akibat dari gangguan sistem tubuh yang lain. Tahap kegiatan dalam penanggulangan penderita gawat darurat telah mengantisipasi hal tersebut. Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan dengan terlebih dahulu survey primer untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mengancam jiwa, barulah selanjutnya dilakukan survey sekunder. Tahapan kegiatan meliputi:
A : Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas disertai control servikal.
B  : Breathing, mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi adekuat.
C  :  Circulation, mengecek system sirkulasi disertai control perdarahan
D  :  Disability, mengecek status neurologis.
Survey primer bertujuan mengetahui dengan segera kondisi yang mengancam nyawa pasien. Survey primer dilakukan secara sekuensial sesuai dengan prioritas. Tetapi dalam prakteknya dilakukan secara bersamaan dalam tempo waktu  yang singkat (kurang dari 10 menit).
1.        Airway
Jalan nafas adalah yang pertama kali harus dinilai untuk mengkaji kelancaran nafas. Kebersihan jalan nafas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi  proses ventilasi (pertukaran gas antara atmosfer dengan paru-paru). Jalan nafas sering kali mengalami obstruksi akibat benda asin, serpihan tulang akibat fraktur pada wajah, akumulasi secret dan jatuhnya lidah kebelakang. Selama memeriksa jalan nafas harus melakukan control servikal, barang kali terjadi trauma pada leher. Oleh karena itu langkah awal untuk membebaskan jalan nafas adalah dengan melakukan manuver head lith dan chin lift.
Data yang berhubungan dengan status jalan nafas adalah
1)   Sianosis (mencerminkan hipoksemia)
2)   Retraksi interkosta (menandakan peningkatkan upaya nafas
3)   Pernafasan cuping hidung
4)   Bunyi nafas abnormal (menandakan ada sumbatan jalan nafas)
5)   Tidak adanya hembusan udara (menandakan obstruksi total jalan nafas atau henti nafas)
2.        Breathing
Kebersihan jalan nafas dan pola nafas tidak menjamin bahwa pasien dapat bernafas secara adekuat. Inspirasi dan ekspansi penting untuk terjadinya pertugaran gas, terutama masuknya oksigen yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. Inspirasi dan ekspirasi merupakan tahap ventilasi pada proses respirasi. Fungsi ventilasi mencerminkan fungsi paru, dinding dada dan diafragma.
Pengkajian pernafasan dilakukan dengan mengidentifikasi: 1) Pergerakan dada, 2) Adanya bunyi nafas, 3) Adanya hembusan/aliran udara
3.        Circulation
Sirkulasi yang adekuat menjamin distribusi oksigen ke jaringan dan pembuangan karbondioksida sebagai sisa metabolisme. Sirkulasi tergantung dari fungsi sistem kardiovaskuler. Status hemodinamik dapat dilihat dari: 1) Tingkat kesadaran, 2) Nadi, 3) Warna kulit.
Pemeriksaan nadi dilakukan pada arteri besar seperti pada arteri karotis dan arteri femoral.
Manajemen Airway, Breathing, dan Circulation Decompensasi Cordis
1.    Pengelolah jalan nafas (Airway Management)
1)   Tujuan
Membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran uadara secara normal.
2)   Pengkajian
Pengkajian airway dilakukan bersama-sama dengan breathing menggunakan teknik L (Look), L (Listen), F (Feel) yang dilakukan dalam satu gerakan dalam tempo waktu yang singkat.
3)   Tindakan
(1)     Tanpa alat
1.        Membuka jalan nafas dengan metode Head tilt (dorong kepala ke belakang), Chin lift manuver (mengangangkat dagu), jaw trust manuver (tolak rahang). Pada pasien yang diduga mengalami cedera leher dan kepala hanya dilakukan jaw thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher.
2.        Membersihkan jalan nafas: finger sweep (sapuan jari) dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut belakang atau hipofaring (gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya) dan hembusan nafas hilang. Abdominal thrust (gentakan abdomen), Chest thrust (pijatan dada), Back blow (tepukan pada punggung).
(2)     Dengan alat
1.        Dipasang jalan nafas buatan (pipa orofaring, pipa nasofaring). Pipa orofaring digunakan untuk mempertahankan jalan nafas dan menahan pangkal lidah agar tidak jatuh kebelakang yang dapat menutup jalan nafas terutama pada pasien-pasien tidak sadar. Bila dengan pemasangan pipa endotrkea (ETT/endotrachealtube). Pemasangan pipa endotrachea akan menjamin jalan nafas tetap terbuka, menghindari aspirasi dan memudahkan tindakan bantuan pernafasan.
2.      Penghisapan benda cair (suctioning). Bila terdapat sumbatan jalan nafas karena benda cair maka dilakukan penghisapan (suctioning).  Membersihkan benda asing padat dalam jalan nafas, bila pasien tidak sadar dan terdapat sumbatan benda padat di daerah hipofaring yang tidak mungkin diambil dengan sapuan jari, maka digunakan alat bantuan laringoskop, alat penghisap (suction) dan alat penjepit (forcep)
3.      Membuka jalan nafas dengan krikotirotomi. Bila pemasngan pipa endotrakea tidak mungkin dilakukan, maka dipilih tindakan krikotirotomi dengan jarum
2.        Pengelolah fungsi pernafasan (Breathing Management)
 
1)        Tujuan
Memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbondioksida.
2)        Pengkajian
Gangguan fungsi pernafasan dikaji dengan melihat tanda-tanda gangguan pernafasan dengan metode LLF dan telah dilakukan pengelolaan jalan nafas tetapi tetap tidak  ada pernafasan.
3)        Tindakan
(1)     Tanpa alat
Memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung sebanyak dua kali denga tiupan dan diselingi ekshalasi
(2)     Dengan alat
Memberikan pernafasan buatan dengan alat “Ambu Bag” (self inflating bag). Pada alat tersebut dapat pula ditambahkan oksigen. Pernafasan buatan dapat pula diberikan dengan menggunakan ventilator mekanik, memberikan bantuan nafas dan terapi oksigen dengan menggunakan masker, pipa bersayap, balon otomatis (self inflating bag dan valve device) atau ventilator mekanik.
3.    Pengelolah Sirkulasi (Circulation Management)
1)        Tujuan
Mengembalikan fungsi sirkulasi darah
2)        Pengkajian
Ganggaun sirkulasi dikaji dengan meraba arteri besar seperti femoralis dan arteri karotis. Perabaan arteri karotis sering dipakai untuk mengkaji secara cepat. Juga melihat tanda-tanda lain separti kulit pucat, dingin dan CRT (Capillary Refill Time) > 2 detik. Gangguan sirkulasi dapat disebabkan oleh syok atau henti jantung. Henti jantung mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan terhenti dan menyebabkan kematian dengan segera. Henti jantung ditandai dengan: 1) Hilang kesadaran, 2) Apneu, 3) Sianosis dan pucat, 4) Tidak ada pulse (pada karotis atau femoralis), 5) Dilatasi pupil 9 bila henti sirkulasi >1menit.
3)        Tindakan
Tindakan untuk mengembalikan sirkulasi darah dilakukan dengan eksternal chest compression (pijat jantung) untuk mengadakan sirkulasi sistemik dan paru. Sirkulasi buatan (artificial circulation) dapat dihasilkan dengan intermitten chest compression eksternal. Chest compression menekan sternum ke bawah sehingga jantung tertekan antara sternum dan vertebrae menimbulkan “heart pump mechanism”, dampaknya jantung memompa darah kesirkulasi dan pada saat tekanan dilepas  jantung melebar sehingga darah masuk ke jantung.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
 
Manajemen Kegawatdaruratan Decompensasi Cordis
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Kumpulan ASKEP dan LP-
Navigasi: