-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 LEGENDA ASAL-USUL GAJAH MADA DARI LAMONGAN

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
AyoJoin
Academy Student
Academy Student


Jumlah posting : 4
Join date : 01.09.12

PostSubyek: LEGENDA ASAL-USUL GAJAH MADA DARI LAMONGAN   1st September 2012, 7:42 pm

PROLOG:

Tulisan ini disarikan
dari berbagai sumber. Alasan penggunaan judul ‘legenda’ sendiri tak
lepas dari kenyataan bahwa asal-usul Gajah Mada (1299-1364) sampai
detik ini masih simpang-siur. Sebagian besar penelusuran asal-asul
Gajah Mada bersumber pada cerita rakyat (folklore) dan
pengkaitan nama dengan sejarah lokalitas/etinisitas daerah tertentu.
Belum ada bukti otentik yang bisa menjelaskan darimana sebenarnya Gajah
Mada. Dan karena masih sebatas dari mulut ke mulut (tutur-tinular), maka subyektifitas pun tak terhindarkan dalam setiap upaya menyingkap sejarah Gajah Mada.

Tapi, demikianlah Sejarah.
Akan selalu ada bagian yang dipenuhi ambiguitas dan selalu terkait
dengan sudut kepentingan kekuasaan pada masa tersebut. Ada
faktor-faktor yang membutuhkan legitimasi dan justifikasi pada
keberlangsungan kekuasaan. Dan, itu bisa diraih dengan pengkultusan dan
senses of curiosity yang ujungnya adalah untuk mendapatkan keabsahan kekuasaan (power legitimacy) serta kebanggaan identitas sosial (the pride of social identity) pada tokoh bersangkutan.

Sejarah Indonesia,
seperti halnya sejarah bangsa-bangsa lain, memiliki bab-bab yang
‘samar’ dan multi interpretasi. Dimulai dari raja-raja nusantara, zaman
pergerakan, masa kemerdakaan, orde lama, orde baru hingga dekade
sekarang ini, sebagian besar mempunyai babakan yang memunculkan
heterogenitas opini dan bahkan kontroversi. Beberapa di antaranya
sebagai contoh, ada peranan Demak dalam pengambilalihan kekuasaan
imperium Majapahit. Demikian halnya dengan pembentukan dinasti
Sutawijaya yang menggerogoti Demak dan memunculkan trah Mataram. Belum lagi ditinjau dari segi sosial religi berkaitan dengan penyebaran Islam dan memudarnya kekuasaan Hindu.

Pada konteks zaman pergerakan nasional,
multi interpretasi terhadap latar belakang perjuangan melawan
kolonialis pun beragam. Hal inilah yang memunculkan keberagaman
definisi; pejuang ataukah pemberontak, pahlawan ataukah penghianat.
Sebuah contoh sederhana, sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan.
Sampai detik ini, masih sering terjadi perdebatan dalam memandang sosok
Aru Palakka (Arung Palakka) berkaitan dengan perlawanan
Sultan Hasanuddin terhadap Belanda. Di Buku Sejarah pelajaran sekolah,
sebagian besar tahu bahwa Sultan Hasanuddin adalah pahlawan nasional
sementara Aru Palakka bukan. Standar bakunya ialah, siapapun yang
melawan Belanda, dia adalah pahlawan. Bagi sebagian orang yang paham
kultur Bugis – Makassar, tidak segampang itu menarik garis dikotomi
antara pahlawan dan penghianat untuk dua tokoh tersebut. Ada faktor
histeriografi, etnisitas dan power politik yang ikut melatarbelakangi.

Tapi, sekali lagi, itulah sejarah.

Pada dimensi tertentu, pasti melahirkan
bermacam analisa dan perdebatan. Apalagi, dengan rentang waktu yang
jauh ke belakang, berjarak sekian generasi. Sementara yang ‘baru-baru’
saja sering tak bisa diungkap dengan gamblang. Beberapa pemberontakan
pasca kemerdekaan, Supersemar, kasus-kasus masa reformasi, penculikan,
dan serentetan peristiwa konflik horizontal, adalah contoh betapa
kompleknya menyusun sebuah catatan sejarah.

Meski demikian, satu hal yang pasti:
sejarah adalah catatan berdasar fakta dan keobyektifan. Kalaupun dari
keobyektifan tersebut lantas melahirkan multi interpretasi dan
kontroversi, sah-sah saja. Adalah wajar muncul perdebatan. Yang tak
wajar ialah, jika dalam proses pengambilan kesimpulan, ada upaya
rekayasa, pembelokan, bahkan penghilangan fakta sejarah. Sejarah
dicatat, demi pembentukan bangsa yang cerdas dan bukan sebaliknya:
bangsa bebek.

Tulisan ini, sekali
lagi, ialah legenda. Kalaupun kemudian ada langkah penelitian berkenaan
legenda Gajah Mada ini, tentu sudah lain soal. Yang jelas, legenda ini
hidup di masyarakat tertentu, titur-tinular dari generasi ke generasi.

Dalam perspektif ke-Indonesiaan, Gajah
Mada juga tidak bisa dipandang sebagai milik wilayah, etnis, atau
apalagi orang tertentu. Sosoknya yang memang pernah eksis di percaturan
politik global abad ke-13, sudah terintegral dengan sejarah nusantara,
sehingga tentu saja sudah menjadi milik Indonesia. Sejarah tersebut
bisa juga menjadi inspirasi di era ke-kinian dalam memajukan bangsa
ini, semacam discovering in the old; revitalizing in the future.

Tulisan berikut terdiri dari dua
bagian: (1) Legenda Gajah Mada dari Lamongan, (2) Beberapa Pendapat dan
Dugaan lain berkaitan Asal-Usul Gajah Mada, di antaranya: Dari
Sumatera, Bali, Kalimantan, NTB dan Mongol.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LEGENDA ASAL-USUL GAJAH MADA DARI LAMONGAN
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Visit Lamongan-
Navigasi: