-=Selamat Datang di Giar Jovian Media=-

Anda baru disini?
Untuk melihat seluruh isi Website ini silahkan klik "Register" dibawah ini untuk mendaftar di Website ini!

Anda telah terdaftar disini?
Silahkan klik "Login" dibawah ini untuk masuk kedalam Website!
Terima Kasih!

Regard's,

:: Giar Jovian ::



 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
IKLAN
ads
Website Founder


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Konsep dasar kebutuhan istirahat dan tidur manusia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ADMIN
COMMANDER
COMMANDER


Jumlah posting : 1689
Join date : 20.10.10
Age : 22
Lokasi : Lamongan
Pisces Dog

PostSubyek: Konsep dasar kebutuhan istirahat dan tidur manusia   11th September 2012, 9:01 pm

BAB 1


PENDAHULUAN





A. Latar
Belakang Masalah



Dewasa
ini dikarenakan tingkat kesibukan dan banyak kegiatan sampai waktu pun seakan
dilupakan untuk mengejar kepentingan saja. Sehingga waktu untuk istirahat pun
semakin terabaikan. Ada juga yang mengalami masalah saat memulai istirahat
sehingga sangat mengganggu dalam proses recovery tubuh. Untuk itu konsep dasar istirahat
dan tidur sangat perlu dimengerti agar kebutuhan dasar untuk beristirahat
menjadi lebih enak dan lebih bias mengembalikan tenaga dengan baik.





B. Tujuan Penelitian


1. Mengetahui
Pengertian Istirahat Dan Tidur


2. Mengetahui
Fisiologi Istirahat Tidur


3. Mengetahui
Tahapan Tidur


4. Mengetahui
Faktor Yang Mempengaruhi Istirahat Tidur


5. Mengetahui
Gangguan Istirahat Dan Tidur

















BAB II


ISTIRAHAT DAN TIDUR





A. Pengertian


Istirahat dan tidur merupakan
kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat
dan tidur yang cukup,tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan
tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu. Secara
umum,istirahat berarti suatu keadaan tenang,releks,santai,tanpa tekanan
emosional,dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi,beristirahat bukan berarti
tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang,berjalan-jalan di taman juga
bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.


Sedangkan tidur adalah status
perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan
menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal,tingkat
kesadaran yang bervariasi,perubahan proses fisiologis tubuh,dan penurunan
respons terhadap stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu kita,kita
gunakan untuk tidur. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat
memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas,mengurangi
stress dan kecemasan,serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsenterasi saat
hendak melakukan aktivitas sehari-hari.




















B. Fisiologi
Tidur



Aktivitas tidur diatur dan dikontrol
oleh dua system pada batang otak, yaitu : Reticular Activating System (RAS) dan
Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS di bagian atas batang otak diyakini
memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran;
memberi Stimulus visual,pendengaran,nyeri,dan sensori raba;serta emosi dan
proses berfikir. Pada saat sadar, RAS melepaskan katekolamin,sedangkan pada
saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR. (Hidayat, 2008).


Ritme sirkadian


Setiap makhluk hidup memiliki
bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada manusia,bioritme ini dikontrol oleh tubuh
dan disesuaikan dengan faktor lingkungan (misalnya: cahaya, kegelapan,
gravitasi dan stimulus elektromagnetik). Bentuk bioritme yang paling umum
adalah ritme sirkadian-yamg melengkapi siklus selama 24 jam. Dalam hal ini,
fluktuasi denyut jantung,tekanan darah,temperature,sekresi hormon,metabolism
dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme sirkadiannya.
Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks. Sinkronisasi
sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang mengikuti jam
biologisnya: individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling tinggi atau
paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah.




















C. Tahapan Tidur


Berdasarkan penelitian yang dilakukan
dengan bantuan alat elektroensefalogram (EEG), elektro-okulogram (EOG), dan
elektrokiogram (EMG), diketahui ada dua tahapan tidur, yaitu non-rapid eye
movement(NREM) dan rapid eye movement (REM). (Asmadi, 2008).


1. Tidur NREM. tidur NREM disebut juga
sebagai tidur gelombang-pendek karena gelombang otak yang ditunjukkan oleh
orang yang tidur lebih pendek daripada gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan
orang yang sadar. Pada tidur NREM terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologi
tubuh. Di samping itu,semua proses metabolic termasuk tanda-tanda vital,
metabolism, dan kerja otot melambat. Tidur NREM sendiri terbagi atas 4 tahap
(I-IV). Tahap I-II disebut sebagai tidur ringan (light sleep) dan tahap III-IV
disebut sebagai tidur dalam (deep sleep atau delta sleep).


2. Tidur REM. Tidur REM biasanya terjadi
setiap 90 menit dan berlangsung selama 5-30 menit. Tidur REM tidak senyenyak
tidur NREM, dan sebagian besar mimpi terjadi pada tahap ini. Selama tidur
REM,otak cenderung aktif dan metabolismenya meninggkat hingga 20%. Pada tahap
individu menjadi sulit untuk dibangunkan atau justru dapat bangun dengan
tiba-tiba, tonus otot terdepresi,sekresi lambung meningkat,dan frekuensi
jantung dan pernapasan sering kali tidak teratur.


Selama tidur , individu melewati tahap tidur NREM dan REM.
Siklus tidur yang komplet normalnya berlangsung selama 1,5 jam, dan setiap
orang biasanya melalui emapt hingga lima siklus selama 7-8 jam tidur. Siklus
tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. Tahap NREM I-III
berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama ± 20 menit.
Setelah itu, individu kembali melalui tahap III dan II selama 20 menit. Tahap I
REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit.





D. Faktor yang
mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur



Banyak faktor yang mempengaruhi
kualitas maupun kuantitas tidur,di antaranya adalah penyakit,
lingkungan,kelelahan,gaya hidup,stress emosional,stimulan dan alcohol,diet,
merokok,dan motivasi.


1. Penyakit. Penyakit dapat menyebabkan
nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang
sakit membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak daripada biasanya.di samping
itu, siklus bangun-tidur selama sakit juga dapat mengalami gangguan.


2. Lingkungan. faktor lingkungan dapat
membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau
adanya stimulus yang asing dapat menghambat upaya tidur. Sebagai contoh,
temperatur yang tidak nyaman atau ventilasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur
seseorang. Akan tetapi, seiring waktu individu bisa beradaptasi dan tidak lagi
terpengaruh dengan kondisi trsebut.


3. Kelelahan. Kondisi tubuh yang lelah
dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang,semakin pendek
siklus tidur REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan
kembali memanjang.


4. Gaya hidup. Individu yang sering
berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada waktu yang
tepat.


5. Stress emosional. Ansietas dan depresi
sering kali mengganggu tidur seseorang. kondisi ansietas dapat meningkatkan
kadar norepinfrin darah melalui stimulasi system saraf simapatis. Kondisi ini
menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta
seringnya terjaga saat tidur.








6. Stimulant dan alcohol. Kafein yang
terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP sehingga dapat
mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alcohol yang berlebihan dapat mengganggu
siklus tidur REM. Ketika pengaruh alcohol telah hilang, individu sering kali
mengalami mimpi buruk.


7. Diet. Penurunan berat badan dikaitkan
dengan penurunan waktu tidur dan seringnyaterjaga di malam hari. Sebaliknya,
penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan ttal tidur dan sedikitnya
periode terjaga di malam hari.


8. Merokok. Nikotin yang terkandung dalam
rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali
kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari.


9. Medikasi. Obat-obatan tertentu dapat
mempengaruhi kualitas tidur seseorang. hipnotik dapat mengganggu tahap III dan
IV tidur NREM,metabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan
narkotik (misalnya: meperidin hidroklorida dan morfin(yang biasanya di guanakan
dalam pengobatan saat perang)) diketahui dapat menekan tidur REM dan
menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.


10. Motivasi.
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang.
sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali
dapat mendatangkan kantuk.




















E. Gangguan Tidur Yang
Umum Terjadi



1. Insomnia


Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik
secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada
individu dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena factor
mental seperti perasaan gundah atau gelisah. Ada tiga jenis insomnia:


a. Insomnia
inisial : Kesulitan untuk memulai tidur.


b.
Insomnia intermiten : Kesulitan untuk tetap
tertidur karena seringnya terjaga.


c. Insomnia terminal : Bangun terlalu dini dan sulit untuk
tidur kembali.


Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomnia
antara lain dengan mengembangkan pola tidur-istirahat yang efektif melalui
olahraga rutin, menghindari ransangan tidur di sore hari, melakukan relaksasi
sebelum tidur (misalnya: membaca, mendengarkan musik,dan tidur jika benar-benar
mengantuk).


2. Parasomnia


Parasomnia adalah perilaku yang dapat
mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur. Gangguan ini umum terjadi
pada anak-anak. Beberapa turunan parasomnia antara lain sering terjaga
(misalnya: tidur berjalan, night terror), gangguan transisi bangun-tidur
(misalnya: mengigau), parasomnia yang terkait dengan tidur REM (misalnya: mimpi
buruk),dan lainnya (misalnya: bruksisme).











3. Hipersomnia


Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang
berkelebihan terutama pada siang hari. Gangguan ini dapat disebabkan oleh
kondisi tertentu, seperti kerusakan system saraf, gangguan pada hati atau
ginjal, atau karena gangguan metabolisme (misalnya: hipertiroidisme). Pada
kondisi tertentu, hipersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk
menghindari tanggung jawab pada siang hari.


4. Narkolepsi



Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul
secara tiba-tiba pada siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan
tidur” atau sleep attack. Penyebab pastinya belum diketahui. Diduga karena
kerusakan genetik system saraf pusat yang menyebabkan tidak terkendali lainnya
periode tidur REM. Alternatife pencegahannya adalah dengan obat-obatan,
seperti: amfetamin atau metilpenidase, hidroklorida, atau dengan antidepresan
seperti imipramin hidroklorida.


5. Apnea saat
tidur



Apnea saat tidur atau sleep abnea adalah kondisi terhentinya
nafas secara periodic pada saat tidur. Kondisi ini diduga terjadi pada orang
yang mengorok dengan keras, sering terjaga di malam hari, insomnia, mengatup
berlebihan pada siang hari, sakit kepala disiang hari, iritabilitas, atau
mengalami perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung.














BAB III


PENUTUP


A. Kesimpulan


Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika
persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Tidur
dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal,tingkat kesadaran yang
bervariasi,perubahan proses fsiologis tubuh,dan penurunan respons terhadap
stimulus eksternal


Aktivitas tidur diatur dan dikontrol
oleh dua system pada batang otak, yaitu Reticular Activating System (RAS) dan
Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS di
bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat
mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran,memberi Stimulus
visual,pendengaran,nyeri,dan sensori raba;serta emosi dan proses berfikir
Tahapan tidur, yaitu non-rapid eye movement(NREM) dan rapid eye movement (REM).


Faktor yang mempengaruhi kualitas maupun
kuantitas tidur,di antaranya adalah penyakit, lingkungan,kelelahan,gaya
hidup,stress emosional,stimulan dan alcohol,diet, merokok, dan motivasi. Gangguan
dalam tidur dapat berupa insomnia,parasomnia,hipersomnia,narkolepsi dan apnea.





B. Saran
Setiap individu harus
menjaga kecukupan kebutuhan istirahat dan tidurnya sesuai kebutuhannya. Dengan
kondisi jiwa dan fisik yang sehat maka dapat melakukan berbagai kegiatan dengan
baik. Perawat perlu berupaya membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur
klien sesuai dengan dengan prosedur yang benar sehingga perawat harus
mempunyai, kopetensi yang baik terkait dengan kebutuhan istirahat dan tidur
sehingga pelayanan terhadap klien dapat berjalan dengan baik dan benar.


DAFTAR PUSTAKA





1.
Afifani, Nia. 2009. Faktor yang Berhubungan
dengan Insomnia pada Lansia. http://adln.fkm.unair.ac.id.


2.
Arikunto, S. 2007. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta


3.
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan :
Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.


4.
Aziz, D Nur. 2007. Memetik Manfaat Susu.
http://1ggplus.wordpress.com.


5.
Efendi, Ferry dan Makhfludli. 2009.
Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta
: Salemba Medika


6.
Hidayat, A. aziz. 2008. Pengantar Kebutuhan
Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.


7.
Hidayat, A. aziz. 2008. Riset Keperawatan
& Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika


8.
Hariyanto, Slamet. 2011. Lansia di Indonesia.
http://slamethariyanto.wordpress.com/tag/jatim


9.
Hasyim, Muttaqin. 2009. Manfaat Kalium Nitrat.
http://muttaqinhasyim.wordpress.com


10.
Iskandar, Yul. 2009. Pustaka Kesehatan Populer
: Psikologi. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer


11.
Iwan, 2009. Skala Insomnia (KSPBJ Insomnia
Rating Scale). http://www.sleepnet.com


12.
Khomsam, Ali. 2008. Terapi Gizi Untuk
Insomnia. http://mgiforon.com


13.
Maryam, R. siti, dkk. 2008. Mengenal Usia
Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba Medika.


14.
Mubarak, W Iqbal, dkk. 2009. Ilmu Keperawatan
Komunitas : Konsep Dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.


15.
Nugroho, H. wahjudi. 2008. Keperawatan
Gerontik dan Geriatrik edisi 3.


16.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.


17.
Oktavita. 2009. Insomnia pada Wanita dan
Lansia.


18.
Oktavita.com/penyakit-insomni.html.


19.
Santoso, Denny. 2011. Makanan Yang Mengandung
Triptofan. http://WWW.dennysantoso.com


20.
Suparyanto. 2010. Konsep Insomnia.
http://dr-suparyanto.blog.com
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jovian.yours.tv
 
Konsep dasar kebutuhan istirahat dan tidur manusia
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: E-ducation :: Study Corner-
Navigasi: